Praktikum, Praktikum, Praktikum


Kuliah kesehatan di Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata tentu bakal ada banyak praktikum. Seperti hari ini. Hari ini, Selasa, ada praktikum farmasetika, tetapi sebelum itu ada pelajaran mikrobiologi. Mikrobiologi ada tugas review jurnal dengan tema penemuan antibakteri pada tumbuhan dan bagaimana khasiatnya pada tubuh manusia. Untung saya sudah jadi anggota di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jadi nyari jurnal khususnya ber-ISSN jadi gampang.

Kembali ke praktikum. Ada beberapa hal yang harus kamu persiapkan sebelum memasuki laboratorium buat praktik. Jas laboratorium (jangan lupa dikancingkan), masker, handscoon bila perlu, penutup kepala bila perlu, dan yang penting sepatu! Sepatu buat melindungi kakimu dari tumpahan bahan kimia berbahaya apalagi yang bersifat korosif. Jadi, pakai sepatu itu penting!

Saya enggak ada di situ. Hehe.
Kelas S1 Farmasi kami hari ini kebagian praktikum farmasetika dengan materi pembelajaran menimbang dan membungkus resep puyer.

Kupikir menimbang bakal mudah banget. Tinggal ambil penyetara timbangan, lihat angka, catat. Ternyata enggak! Menyetarakan timbangan ternyata butuh waktu lama banget. Saya perlu waktu hingga sepuluh menit buat menyetarakan timbangan gram di hadapanku ini.


Penyetara timbangan yang saya gunakan isi staples dan peluru mungil. Setelah setara, kami menimbang serbuk, sebelum menimbang serbuk, kami harus mengambilnya secara hati-hati dengan sendok tanduk. Kemudian membagi serbuk menjadi dua bagian, lantas ditimbang kembali. Pastikan beratnya seimbang satu sama lain.

Setelah itu, tibalah memasuki proses yang lumayan sulit. Melipat kertas perkamen. Terdengar gampang, tapi sulit kalau nggak menghayati teknik yang diajarkan dosen.

Semua yang saya deskripsikan di atas membutuhkan waktu rata-rata dua jam untuk menyelesaikan semuanya itu. Yang paling sulit bagi saya yakni melipat kertas perkamen. Susah banget. Melipat harus tepat, kalau enggak, serbuk bakal keluar dari lipatan. Serbuk yang masih saya bungkus rapi saja masih morat-marit.

Potret praktikum farmasetika hari ini.
Itu masih praktikum minggu kedua. Belum lagi praktikum minggu ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Belum lagi praktikum mata kuliah lainnya. 

Tetapi, hal tersebut tak ada apa-apanya dibanding kejamnya dunia.

Harus bisa. Harus bisa. Karena sehabis lulus kuliah farmasi dari kampus ini, saya punya mimpi melanjutkan kuliah profesi di ITB. Kemudian lanjut gelar master di luar negeri. 

Bermimpilah setinggi langit, kalau kamu gagal kamu masih bisa berkhayal. 
Iya, paling enggak kamu pernah berkhayal pernah singgah di impian kamu (yang tidak kesampaian) itu dan paling enggak bisa bikin kamu bahagia walaupun just a little.

No comments:

Powered by Blogger.