Maudy Ayunda dan Segala Keberuntungannya

Lagi-lagi Maudy Ayunda bikin heboh tanah air. Singkat cerita, doi diterima di dua kampus ternama dunia: Harvard University dan Stanford University. Saya yang mendengar kabar itu langsung membatin, "Edan, beruntung sekali orang ini. Nggak ada kurangnya sama sekali."


Sudah lulusan undergraduate Oxford, seniman tanah air yang banyak menginspirasi penggemarnya,  telah menerbitkan buku, menguasai tiga bahasa, dan seabrek kelebihan lain yang tidak perlu saya sebutkan lebih jauh.

Kegundahan si Maudy milih antara dua kampus beken sedunia itu lantas bikin para netizen (yang budiman) ramai-ramai membandingkan dengan kegundahan diri mereka masing-masing. Saya pun begitu. Bikin seribu alasan buat nggak datang rapat UKM kampus sedangkan Maudy Ayunda sibuk mengembangkan relasi, menjadi brand ambassador berbagai produk. Bingung mikir besok makan apa biar duit lima puluh ribu bisa tahan lima hari, si Maudy lagi sibuk nyari LoA.

Betapa tidak adilnya hidup. Saya jadi teringat ambisi saya melanjutkan sekolah di luar negeri. Karena saya lahir dari keluarga yang biasa saja, saya pun nyari info beasiswa dan pada akhirnya ambisi itu pupus karena persyaratannya yang cukup menguras kantong. Tes SAT, TOEFL, IELTS nggak memakan biaya yang sedikit. Mimpi saya meraih sarjana di luar negeri pun pupus.

Coba bandingkan dua kondisi manusia yang berbeda latar belakang di atas. Maudy Ayunda dan saya.

Maudy Ayunda memang lahir dari keluarga yang privileged. Doi nggak perlu susah-susah ngurus biaya tes, paspor, visa, maupun persyaratan lainnya. Doi juga alumni British School Jakarta yang notabene sekolah internasional dengan kurikulum internasional pula.

Kemudian, saya, seorang siswa biasa saja yang kebanyakan bermimpi. Lahir dari keluarga biasa saja. Pengin kuliah sarjana di luar negeri tapi nggak keturutan.

Lihat kan perbedaan fatalnya? Kemampuan melihat peluang!

Terlepas dia lahir dari keluarga yang privileged, si Maudy pintar melihat peluang yang ada. Dia memanfaatkannya dengan baik. Hal itu dibarengi dengan kerja keras, tentu saja. Oke, saya ndak tahu berapa banyak kegagalan yang menimpanya, yang pasti, saya yakin doi pernah gagal. Orang yang benar-benar bekerja keras tak akan menampakkan prosesnya kepada publik, tetapi lebih menampakkan kejutan atas hasil kerja kerasnya. Well, she nailed it!

Lalu saya. Saya yang melihat peluang saya yang kecil seharusnya membuat persiapan lebih matang. Seharusnya saya sudah menabung buat bisa ambil tes TOEFL atau SAT. Seharusnya saya sudah bikin skala prioritas hal apa yang harus kulakukan buat menunjang impianku.

Itulah bedanya. Kemampuan melihat peluang tiap orang beda. Ada yang peluang terbuka lebar, tapi tak mampu meraih. Ada yang peluang sempit, karena kerja keras dia pun berhasil!

Tiap orang punya titik keberangkatan masing-masing. Ada yang istimewa sehingga titik keberangkatannya lebih awal, namun nggak bisa mengelola keistimewaan itu sehingga berakhir pada kegagalan. Ada yang titik keberangkatannya dari nol, karena kerja keras dan doa, dia pun bisa melampaui yang titik keberangkatannya lebih awal.

Si Maudy ini memang cerdas dalam memanfaatkan peluang.

"Kerja keras akan berbanding lurus dengan keberuntungan," begitu kalau kata guru Bahasa Inggris saya. Oke, saya nggak sepenuhnya setuju, seharusnya kalimat itu dirubah jadi, "Kerja keras berbanding lurus dengan peluang."

1 comment:

  1. insyaallah Allah SWT memberikan yang terbaik bagi hambanya. semua punya jalannya masing2

    ReplyDelete

Powered by Blogger.