Sakit Gigi di Perantauan

November 04, 2018

Pada suatu siang yang luar biasa panas, mendadak rasa nyeri itu menyerang. Nyeri luar biasa, berkedut di bagian gigi geraham bawah bagian kiri. Rasanya lebih sakit dari patah hati.
Sumber: unsplash.com
Cepat-cepat saja aku ambil cermin dan menyalakan flashlight ponsel, kuarahkan ke dalam mulut. Ternyata gigi gerahamku berlubang. Lubangnya kecil sekali nyaris nggak terlihat. 

Paling-paling sakitnya cuma bentaran.

Awalnya kupikir sakitnya cuma berlangsung tiga puluh menitan atau paling lama satu jam. Kubiarkan rasa sakit itu sambil melakukan aktivitas lain seperti mencuci, menjemur baju, mandi, mengerjakan tugas kuliah. Hingga malam pun menjelang, sakit itu masih ada. Lebih ngilu. Buru-buru aku chat saudariku, bertanya apa yang harus aku lakukan dalam kondisi seperti ini lebih baik pergi ke rumah sakit, klinik dokter gigi, atau puskesmas.

Saudariku menyarankan aku untuk minum asam mefenamat kemudian dia menyarankanku untuk pergi ke puskesmas terdekat esoknya. Aku punya mencari puskesmas paling dekat dengan kos melalui Google Maps dan hasilnya yang paling dekat jaraknya tiga kilometer.

Google Maps memang paling bisa diandalkan dalam keadaan seperti ini.
Pada beberapa postingan berlabel pengalaman pribadi aku sebelumnya, aku nggak pernah memberitahu tempat di mana aku tinggal. Sekarang ketahuan deh, aku tinggal di Kediri (lebih tepatnya ngekos sih). Aku sedang menuntut ilmu di Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri. :)

Kembali ke cerita. Aku pun mencoba mengabaikan rasa sakit tersebut dan memaksa diriku untuk tidur malam itu. Esoknya, aku bangun pagi-pagi sekali dan sekitar pukul tujuh langsung berangkat menuju Puskesmas B. Akan tetapi, pas sampai di sana loket pendaftaran masih tutup. Bukanya jam setengah delapan. Syabaaaar. :(
Puskesmas B. Puskesmas Balowerti. 
Lewat jam setengah delapan, akhirnya loket pendaftaran di buka. Akibat antrean yang membludak aku dapat nomor tujuh. Rencana dapat nomor satu gagal sudah. :(
Menahan rasa sakit gigi di antara kerumunan di ruang tunggu.
Akhirnya giliranku diperiksa tiba. Aku pun diminta untuk langsung naik ke kursi pemeriksaan. Dokter pun langsung memeriksa gigiku.

"Sakit?" katanya, ia menyentuh gigi gerahamku dengan sebuah alat.


"Enggak."


Dokter itu menyentuh gigiku agak ke dalam. Rasanya sakit luar biasa! Aku terhenyak dibuatnya.


"Sakit?"


Aku mengangguk.

"Saran saya kamu minum obat yang saya beri dahulu." 

"Gigi saya berlubang, Dok?"

"Iya."

"Kenapa tidak langsung ditambal?"

"Lubang di gigi kamu itu kecil sekali. Jadi kalau mau ditambal harus diperbesar dulu lubangnya karena kalau nggak ya tidak akan muat."

Aku langsung merinding membayangkannya (meskipun gigiku sudah ada yang pernah ditambal). Aku pun menyetujui saran dokter untuk minum obat lebih dahulu. Dokter menambahkan kalau masih sakit harus kembali cek ke sini (ke puskesmas).

Minum obat yang sama lagi. Huhu.
Gambar di atas bacanya: 

  • Amoksisilin sepuluh tablet diminum tiga kali sehari.
  • Asam mefenamat sepuluh tablet diminum tiga kali sehari.

Buat yang lagi di perantauan dan jauh dari orang tua, kalian jaga gigi kalian ya. Sakit gigi itu suakit sekali. Bersyukurlah bagi orang-orang yang selalu diberi kesehatan.

You Might Also Like

0 komentar

Follow by Email

Contact Form

Name

Email *

Message *