Ghibah yang Diperbolehkan

October 09, 2018

Sumber: freepik.com
Ghibah yakni menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, dan sebagainya. Allah Swt. menyamakan orang yang meng-ghibah saudaranya sendiri seperti memakan bangkai saudaranya tersebut. Akan tetapi, terdapat ghibah yang diperbolehkan. Imam Nawawi pernah berkata, "Ghibab hanya diperbolehkan untuk tujuan yang benar dan legal, serta tidak ada cara mencapainya kecuali dengannya."
Ada enam perkara yang membuat ghibah diperbolehkan, yakni:
  1. Mengadukan kezaliman. Seorang yang dizalimi boleh mengadukan kezaliman kepada sang penguasa, atau hakim, atau siapa saja yang punya kekuasaan atau kemampuan menuntut balas dari orang yang menzaliminya.
  2. Meminta pertolongan untuk mengubah kemungkaran, mengembalikan kemaksiatan pada kebenaran. Diperbolehkan apabila dia meminta tolong kepada orang yang punya kemampuan untuk menghapuskan kemungkaran. Jika dia (si pengadu) tidak bermaksud demikian, maka hal ini adalah haram.
  3. Meminta fatwa. Seseorang berkata sang mufti (pemberi fatwa untuk memutuskan masalah yang berhubungan dengan hukum Islam), "Bapak, atau saudara, atau suami saya, atau si fulan telah mezalimi saya, apakah dia boleh melakukan hal itu kepada saya? Bagaimana cara saya menyelesaikannya dan saya memperoleh hak saya, menolak kezaliman atau sejenisnya?" Hal tersebut diperbolehkan, tapi seperlunya saja.
  4. Memperingati dan menasehati kaum muslimin dari kejahatan. Hal ini ditinjau dari beberapa sisi. Di antaranya mengkritisi para rawi dan saksi yang lemah dan tidak terjaga. Hal ini diperbolehkan sesuai dengan ijma' para ulama, bahkan hukumnya wajib. Di antaranya juga, jika dia melihat seorang penuntut ilmu agama sering berkunjung ke tempat ahli bid'ah atau fasik, atau menuntut ilmu kepada ahli bid'ah tersebut. Kalau dia takut hal itu akan membahayakan sang penuntut ilmu, maka dia boleh menasehatinya dengan menceritakan keadaan yang sebenarnya. Namun, ada satu kesalahan yang sering terjadi. Terkadang, si penasihat tersebut menaruh rasa hasad dalam nasihatnya, maka penasihat harus 'jeli' dalam hal ini.
  5. Kalau orang bersangkutan terang-terangan dengan kefasikan dan bid'ahnya. Seperti orang terang-terangan minum khamar, merampas harta orang lain dan mengurangi harga, merampok, dan menekuni pekerjaan yang batil. Maka, menyebutkan hal-hal yang dilakukan secara terang-terangan ini diperbolehkan. Selain dari itu, tak diperbolehkan kecuali terdapat penyebab lain yang memperbolehkannya.
  6. Jika seseorang sudah terkenal dengan sebuah gelar atau julukan; seperti dungu, pincang, tuli, juling, dan sebagainya, maka menyebut mereka dengan julukan tersebut diperbolehkan. Tetapi kalau niatnya menghinakan, maka hal ini terlarang. Lebih baik menyebut mereka dengan selain julukan tersebut apabila hal itu memungkinkan.
Artikel ini disadur penulis dari buku Benteng Ghaib karya Wahid Abdussalam Bali.

You Might Also Like

0 komentar

Follow by Email

Contact Form

Name

Email *

Message *