Gado-Gado dan Bapak

October 29, 2018


Sesudah urusan dengan perpustakaan kampus kelar, aku berniat cari makanan. Pilihanku jatuh pada gado-gado yang dijual nggak jauh dari kos. Gado-gado adalah satu dari sekian menu berbahan full sayuran yang dapat aku nikmati dan pilihan nomor satu bila aku nggak pengen makan nasi. Iya, aku nggak suka makan sayur kecuali menu-menu tertentu.

Aku pun meluncur dan ternyata pas sampai di sana, gado-gadonya habis. Maklum, gado-gado yang dijual dekat kosku itu selalu ramai karena memang enak dan porsinya pas. Aku pun kembali berkeliling, lima menit kemudian aku menjumpai ibu yang berdagang gado-gado di kawasan Jalan Panglima Sudirman Kota K.

Langsung saja aku pesan satu gado-gado, kemudian duduk. Di sampingku ada seorang bapak-bapak berpakaian jaket kulit hitam, kemeja putihnya menyembul di penghujung jaket, dan berkacamata. Supaya gampang, di blog ini aku menyebutnya Pak Y.


Seperti orang-orang pada umumnya ketika di ruang publik, pasti saling menegur. Pak Y menegurku, bertanya tempat tinggalku. Aku pun menjawabnya dengan menyebut kampung halamanku.


Pesanan pun datang, aku sedikit terkejut karena porsinya banyak sekali.


Sambil melahap hidangan, aku mencoba membuka percakapan kembali. "Panjenengan berasal dari mana, Pak?"

"Saya dari Sidoarjo."

Raut muka Pak Y tampak letih waktu itu, aku pun lantas berkata,  "Pulang kerja ya, Pak?"

"Oh, enggak," jawab Pak Y. "Saya habis keliling-keliling Kota K, nyari sekolahan buat anak saya. Anak saya yang satu masih TK dan yang satunya masih SD. Maklum, saya baru pindah kerja ke sini beberapa hari lalu."

Kalimat yang beliau katakan itu membuatku tertegun, percakapan super singkatku dengan Pak Y membikin aku teringat dengan almarhum bapak. Bapak telah meninggal dunia tatkala aku berusia enam tahun. 

Berbagai peristiwa yang berkaitan dengan bapak di masa lampau hanya beberapa saja yang aku ingat. Salah satunya adalah saat aku bermain dengan sabuk milik bapak, sabetan sabuk yang kulakukan nggak sengaja mengenai wajah bapak. Buru-buru aku lari menghampiri ibu, bersembunyi di balik kakinya. 


Kala itu, bapak tampak marah, akan tetapi beliau menahan amarahnya. Beliau—bapak—cuma menasehatiku. Aku lupa apa yang beliau katakan, itu sudah lama sekali. 

Ah, ternyata banyak hal berharga yang terjadi di masa lalu yang aku lupakan begitu saja. 

Bapak dengan semangat kerja kerasnya, bapak yang lebih mementingkan orang lain terlebih dahulu, bapak yang masih repot tapi meluangkan waktu menjemput aku yang masih TK. Dulu.

Waktu berjalan cepat bak kecepatan cahaya. Bapak tiada, saudara perempuanku menikah, dan aku menjadi mahasiswi. Peralihan dari anak SMA menuju bangku kuliah membuatku sadar bahwa tidak peduli di mana tempat kamu berkuliah yang terpenting apakah kamu bisa bermanfaat bagi orang lain dan dapat menyebar kebahagiaan. Do something positive and spread happiness!

Kembali ke inti, sambil menulis tulisan singkat ini, aku jadi teringat sebuah quotes:
"Banyak yang sibuk mengejar harta hingga melupakan keluarga. Padahal tanpa kita sadari, keluarga ialah harta yang tak ternilai, indahnya kebersamaan."

Keluarga adalah harta yang nggak ternilai. Bapak telah tiada, maka dari itu ibu adalah orang yang paling utama aku ingin bahagiakan atau paling nggak mengurangi bebannya.

Gado-gado mempertemukanku dengan Pak Y bersama cerita sederhanya yang memberiku semangat. Semangat untuk selalu bekerja keras.

You Might Also Like

0 komentar

Follow by Email

Contact Form

Name

Email *

Message *